"Membangun Desa Berdasarkan Kemasyaraktn Dan Berpedoman Pada Cita-Cita Rakyat,Serta Mewujudan Mayaratak Yang Sejahtera,Sehat,Berbuaya,Mandari Dan Bermartabat"
| No | Nama Petugas | Jabatan | Masa Jabatan |
|---|---|---|---|
| 1 | Yohanes Baos | Kepala Desa Lembur | 2022-2027 |
| 2 | Tadeus Betu | RT 016 | 2022-2027 |
| 3 | Arkadius Sambur | Sekertaris Desa | 2022-2027 |
| 4 | Fidelis Ramli Karfalo | Kepalah Pemerintahan | 2022-2027 |
| 5 | Yohanes Jaka | Kepalah Pembangunan | 2022-2027 |
| 6 | Inosensius Januardi | RT01 | 2022-2027 |
Desa Lembur terletak di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini memiliki sejarah panjang dan menjadi salah satu desa berprestasi di wilayahnya. Dikenal sebagai desa yang “bersinar di masa lalu,” Lembur pernah menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Pada tahun 1993, di bawah kepemimpinan Almarhum Simeon Olang, Desa Lembur meraih penghargaan sebagai Desa Terbersih dan Terpanjang Secara Nasional. Wilayah Desa Lembur membentang lurus sejauh ±7 kilometer, dikelilingi oleh perbukitan yang asri dan udara yang sejuk. Sebagai bentuk apresiasi atas prestasi tersebut, pemerintah memberikan satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dikelola langsung oleh desa dan berlokasi di belakang Kantor Desa Lembur. Sejak saat itu, masyarakat mulai menikmati penerangan listrik sebagai tonggak awal kemajuan desa.
Asal Usul Nama dan Sejarah Desa
Nama “Lembur” memiliki makna historis dan budaya yang dalam. Berdasarkan cerita turun-temurun, istilah Lembur berasal dari kata “Puran”, yang berarti air tergenang atau rawa-rawa. Kubangan air tersebut tidak pernah kering dan menjadi tempat favorit ternak warga untuk berendam. Konon, di tempat tersebut pernah terjadi peristiwa tragis yang menimpa seorang warga bernama Bapak Kembung atau akrab disapa “Mekas” Kembung. Saat mencari kayu bakar, beliau terjatuh dari pohon dan meninggal dunia. Sesuai tradisi masyarakat Manggarai, orang yang meninggal tidak wajar biasanya dimakamkan di lokasi kejadian. Sejak itu, tempat tersebut dianggap angker dan disebut warga sebagai “puran sengit.” Dari kisah inilah nama “Lembur” kemudian lahir dan digunakan hingga kini. Pada masa desa gaya lama, wilayah yang kini disebut Desa Lembur terbagi menjadi tiga desa, yaitu:
1. Desa Lokom (dipimpin oleh Ambrosius Ndauk)
2. Desa Mbapo (dipimpin oleh Gaspar Japang)
3. Desa Rende (dipimpin oleh Lorensius Djaik, kemudian digantikan oleh Stanislaus Tandang)
Tahun 1968 menjadi tonggak penting berdirinya Desa Gaya Baru, ketika ketiga desa tersebut digabung menjadi satu wilayah bernama Desa Lembur. Nama ini diambil sebagai simbol persatuan dari ketiga desa sebelumnya. Kepemimpinan Desa Lembur dari masa ke masa adalah sebagai berikut:
1. Simon Olang
2. Goris Ndoi
3. Vinsen Reamur
4. Antonius Jelorong
5. Yohanes Baos (Kepala Desa saat ini)
Pasca penggabungan, wilayah Desa Lembur dimekarkan menjadi empat dusun, yakni: Dusun Pandu, Lokom, Rende, dan Mbapo.
Keberagaman Suku dan Sosial Budaya
Desa Lembur merupakan desa yang majemuk, dihuni oleh berbagai suku yang hidup berdampingan secara harmonis. Warga tetap menjunjung tinggi adat istiadat masing-masing sambil menjaga kerukunan dan rasa persaudaraan.
Interaksi sosial yang kuat antarwarga telah melahirkan banyak ikatan perkawinan lintas suku, mempererat persatuan masyarakat. Suku-suku yang mendiami Desa Lembur antara lain: Weru, Suka, Aghos, Pejek, Kae, Keling, Waling, Wake, Ngeko, Motu, Mbepi, Pejek Lemok, Roton, Wunas, Todo, Gunung, Mokel Manus, Nege, Keteng, Pau Keteng, Nguzul, Bebong, Walan, Longga, dan Side.